SUMATERA SELATAN — Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan pasar otomotif nasional kembali terkontraksi pada Mei 2026. Penjualan ritel—distribusi dari diler ke konsumen—turun dari 75.736 unit di April menjadi 71.890 unit. Tren ini mengonfirmasi pelemahan daya beli yang sudah terlihat sejak kuartal pertama tahun ini.
Daihatsu mempertahankan posisi puncak dengan penjualan 12.531 unit, naik tipis dari 12.300 unit pada bulan sebelumnya. Mitsubishi juga mencatatkan pertumbuhan positif, dari 5.312 unit menjadi 5.763 unit. Namun, Honda justru menunjukkan stagnasi yang mengkhawatirkan.
Setelah anjlok ke titik terendah 3.515 unit di April, penjualan Honda hanya bergerak ke 3.464 unit di Mei. Alih-alih bangkit, pabrikan berlambang sayap itu justru kian menjauh dari tiga besar. Posisi Honda kini bahkan mulai terancam oleh merek-merek pendatang baru.
Fenomena paling mencolok dalam data Mei 2026 adalah dominasi pabrikan Tiongkok di papan tengah. Jaecoo mencatatkan penjualan retail 3.000 unit, hanya terpaut 464 unit dari Honda. BYD menyusul dengan 2.892 unit, disusul Geely 2.005 unit, dan Wuling 1.640 unit.
Jika dihitung secara wholesales—distribusi dari pabrik ke diler—posisi Honda semakin terpuruk. Honda hanya mencatatkan 2.378 unit wholesales, berada di peringkat keenam, tepat di bawah Jaecoo yang membukukan 3.000 unit. Ini sinyal bahwa tekanan terhadap merek Jepang tidak hanya terjadi di ritel, tapi juga di tingkat distribusi.
Di luar persaingan papan atas, Hyundai mencatatkan penjualan 1.462 unit sepanjang Mei. Jetour, merek asal China lainnya, juga menunjukkan pertumbuhan signifikan pasca libur Lebaran dengan penjualan 300 unit, naik dari 213 unit di April. Angka-angka ini memperkuat tren pergeseran preferensi konsumen Indonesia ke mobil-mobil asal Tiongkok yang menawarkan fitur lebih lengkap di kelas harga yang sama.
Penurunan penjualan Honda terjadi di saat konsumen cenderung menunda pembelian kendaraan baru. Dengan empat merek China yang kini mengisi 10 besar, persaingan di segmen entry-level dan menengah dipastikan semakin ketat hingga akhir 2026.