SUMATERA SELATAN — Perbaikan ketahanan keuangan ini terlihat dari kemampuan keluarga pelaku UMi dalam mengelola pendapatan, memiliki tabungan, serta akses terhadap pinjaman formal. Riset tersebut menangkap perubahan pola ekonomi rumah tangga yang sebelumnya rentan, kini mulai memiliki bantalan finansial. BRI Research Institute mencatat, temuan ini merupakan hasil dari program pemberdayaan dan pembiayaan yang terintegrasi.
Riset yang dilakukan terhadap ribuan nasabah PNM itu mengukur ketahanan keuangan dari tiga aspek utama: kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, ketersediaan dana darurat, dan akses pada layanan keuangan formal. Hasilnya, mayoritas responden menunjukkan skor ketahanan yang masuk kategori "tahan" dan "sangat tahan".
Angka 69,2 persen tersebut naik dibandingkan periode-periode sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa intervensi pembiayaan dan pendampingan yang dilakukan oleh holding ultra mikro BRI—yang menaungi PNM dan Pegadaian—mulai membuahkan hasil nyata. Para pelaku usaha tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mengembangkan usahanya.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui holding ultra mikro-nya telah menjangkau jutaan pelaku usaha di segmen paling bawah. Melalui PNM, mereka mendapatkan pembiayaan modal kerja tanpa agunan serta pendampingan usaha melalui program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar).
Pendekatan ini berbeda dengan kredit konvensional. Nasabah tidak hanya diberi pinjaman, tetapi juga dilatih mengelola keuangan rumah tangga dan usaha. "Pendampingan menjadi kunci utama agar kenaikan kelas usaha bisa terjadi," demikian inti temuan riset tersebut. Kombinasi akses modal dan literasi keuangan inilah yang memperkuat ketahanan finansial keluarga.
Perbaikan ketahanan keuangan di segmen ultra mikro berdampak langsung pada perputaran ekonomi di tingkat desa dan kelurahan. Ketika seorang ibu rumah tangga yang menjadi nasabah Mekaar mampu menyisihkan pendapatan untuk tabungan, daya beli komunitas di sekitarnya ikut terdorong. Mereka menjadi konsumen sekaligus penyedia barang dan jasa di lingkungan terdekat.
BRI Research Institute memproyeksikan tren positif ini akan berlanjut seiring dengan perluasan ekosistem holding ultra mikro. Integrasi data dan layanan antara BRI, PNM, dan Pegadaian memungkinkan nasabah untuk naik kelas secara bertahap, dari ultra mikro ke segmen mikro dan kecil.
Dengan ketahanan keuangan yang lebih baik, keluarga pelaku usaha ultra mikro kini memiliki ruang bernapas lebih lebar untuk menghadapi guncangan ekonomi. Mereka tidak lagi harus menjual aset produktif atau meminjam dari rentenir saat kebutuhan mendesak datang. Ini adalah fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan ekonomi inklusif di Indonesia.