PALEMBANG — Ekosistem baru ini mengintegrasikan proses produksi, pengolahan, pembiayaan, distribusi, pemasaran, hingga konsumsi pangan dalam satu rantai pasok yang terhubung. Peluncurannya dirangkaikan dengan High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumsel, menandai sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal daerah.
Cik Ujang menyoroti perubahan pola hidup masyarakat yang kini mulai meninggalkan tradisi memanfaatkan pekarangan rumah. “Kalau dulu setiap rumah memanfaatkan pekarangan untuk menanam cabai dan sayuran. Sekarang justru masyarakat desa membeli kebutuhan itu ke kota. Budaya ini harus kita hidupkan kembali,” ujarnya.
Menurutnya, kebiasaan menanam cabai, sayuran, dan memelihara ternak di pekarangan bisa menjadi solusi awal untuk menekan ketergantungan pasokan dari luar daerah. Pemprov Sumsel akan mendorong program ini kembali ke tingkat rumah tangga, terutama di perdesaan.
Program MBG yang digagas Presiden Prabowo Subianto masih menghadapi kendala pasokan bahan baku lokal. Cik Ujang menyebut keterbatasan ayam, sapi, ikan, telur, dan sayuran masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
“Program Makan Bergizi Gratis adalah program yang sangat baik untuk anak-anak kita. Karena itu seluruh kepala daerah, kepala desa, tokoh masyarakat hingga organisasi kemasyarakatan harus bersama-sama memperkuat sektor pertanian dan peternakan lokal,” tegasnya.
Pemprov Sumsel berkomitmen mendukung petani dan peternak melalui pembangunan infrastruktur pertanian, penyediaan bibit tanaman, benih ikan, bantuan peternakan, hingga perbaikan akses jalan produksi.
Kepala Perwakilan BI Sumsel Bambang Pramono mengapresiasi keberhasilan TPID Sumsel menurunkan inflasi bulanan dari 0,61 persen menjadi 0,36 persen. Namun, inflasi tahunan masih tercatat 2,89 persen, sehingga kewaspadaan terhadap komoditas strategis seperti beras, bawang merah, bawang putih, dan tomat perlu ditingkatkan.
Ia mengingatkan adanya ancaman imported inflation akibat konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok dunia. “Kondisi global mengalami perlambatan dan ketidakpastian yang berpotensi meningkatkan biaya input produksi. Hal ini harus kita waspadai agar tidak menekan daya beli masyarakat,” ujar Bambang.
Untuk menjaga stabilitas harga, BI merekomendasikan strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Selain itu, BI mendorong penyesuaian menu MBG dengan potensi pangan lokal, pembentukan toko penyeimbang di pasar tradisional, hingga penerapan Early Warning System (EWS) untuk deteksi dini tekanan inflasi.
Bambang menjelaskan, GSMP yang berjalan sejak 2021 tak lagi sekadar gerakan menanam. Kini, program tersebut berkembang menjadi ekosistem rantai pasok yang menghubungkan produksi, pengolahan, pembiayaan, pemasaran, hingga peluang ekspor.
Setelah sukses dengan GSMP Goes to School, GSMP Goes to Office, dan GSMP Menyala, BI bersama Pemprov Sumsel akan mengembangkan GSMP Goes to Pesantren. “Melalui pesantren, ekosistem pangan tidak berhenti pada produksi, tetapi juga berkembang ke pengolahan,” pungkas Bambang.
Ekonomi Sumsel pada triwulan II 2026 tercatat tumbuh 5,34 persen, lebih tinggi dari rata-rata Sumatera yang sebesar 5,13 persen. Sektor konstruksi, hilirisasi komoditas unggulan, pengembangan Pelabuhan Tanjung Carat, dan pariwisata menjadi motor utama pertumbuhan tersebut.