SUMATERA SELATAN — Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan ketentuan dan arahan pemerintah, dengan tetap mengedepankan daya beli masyarakat serta menjaga ketahanan pasokan energi nasional. Penyesuaian harga berlaku untuk wilayah dengan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) sebesar 5 persen, termasuk DKI Jakarta.
Penurunan paling dalam terjadi pada Pertamax Turbo yang harganya dipangkas Rp 1.000, dari Rp 19.300 menjadi Rp 18.300 per liter. Sementara Pertamax Green 95 turun Rp 400 menjadi Rp 16.600 per liter dari sebelumnya Rp 17.000.
Dua produk diesel nonsubsidi justru tidak mengalami perubahan harga. Pertamina Dex tetap dipatok Rp 21.150 per liter, dan Dexlite masih bertahan di angka Rp 19.700 per liter.
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menjelaskan bahwa mekanisme penetapan harga ini mengikuti fluktuasi pasar global. Perkembangan harga minyak dunia dan pergerakan nilai tukar rupiah menjadi dua variabel utama yang dievaluasi secara berkala.
"Penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan mengikuti ketentuan dan arahan pemerintah dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta tetap memperhatikan daya beli masyarakat. Langkah ini juga merupakan bagian dari upaya menjaga ketersediaan pasokan BBM nasional agar tetap terjamin bagi masyarakat," kata Kitty dalam keterangan resminya, Jumat (31/7/2026).
Di luar penurunan harga resmi, konsumen masih bisa menekan pengeluaran lebih jauh melalui program promo di aplikasi MyPertamina. Tersedia cashback, potongan harga, hingga akumulasi loyalty points untuk setiap transaksi pembelian BBM nonsubsidi menggunakan metode pembayaran mitra yang bekerja sama.
Kitty menambahkan, pihaknya berkomitmen menjaga keandalan pasokan dan memberikan layanan terbaik di seluruh Indonesia. Informasi harga terbaru dapat diakses melalui situs resmi Pertamina Patra Niaga, sementara detail promo tersedia di aplikasi MyPertamina atau menghubungi Pertamina Customer Solution 135.
Langkah ini menjadi kabar baik bagi pengendara di tengah tekanan biaya hidup, sekaligus sinyal bahwa harga energi nonsubsidi di dalam negeri merespons cepat pergerakan pasar internasional.