PALEMBANG — Wakil Gubernur Sumatera Selatan Cik Ujang memimpin langsung peluncuran Ekosistem Rantai Pasok GSMP–MBG, sebuah model kolaborasi yang mengintegrasikan mata rantai pangan dari hulu ke hilir. Program ini dirancang untuk menghubungkan hasil produksi petani, peternak, nelayan, hingga UMKM dengan kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional I Gusti Ketut Astawa, Staf Khusus Kementerian Koperasi Ambar Pertiwiningrum, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Selatan Bambang Pramono, serta Kepala Kantor Wilayah DJPb Sumatera Selatan Rahmadi Murwanto.
Kepala Kantor Wilayah DJPb Provinsi Sumatera Selatan Rahmadi Murwanto menegaskan, ekosistem ini bukan sekadar program seremonial. Skema yang dibangun menyentuh aspek pembiayaan produktif melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), dana tanggung jawab sosial perusahaan (TJSL), hingga dukungan pembiayaan BUMN/BUMD dalam mekanisme matching fund.
"Model ini diharapkan mampu memperkuat sirkular ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujar Rahmadi dalam sambutannya.
Dengan skema tersebut, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), BUMDes, dan UMKM mendapat kepastian pasar. Hasil panen petani tidak lagi berhenti di tengkulak, melainkan terserap langsung ke dapur MBG yang tersebar di berbagai daerah.
Di tengah peluncuran ekosistem ini, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Selatan Bambang Pramono memaparkan kondisi perekonomian terkini. Menurutnya, inflasi Sumatera Selatan tetap terkendali dan konsisten berada di bawah tingkat inflasi nasional, meskipun terdapat dinamika komoditas penyumbang inflasi yang perlu diantisipasi.
Capaian tersebut tidak lepas dari keberhasilan implementasi Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) yang didukung Bank Indonesia sejak pertama kali diluncurkan pada 2021. Pertumbuhan ekonomi daerah juga dinilai terjaga berkat konsumsi rumah tangga, kinerja industri pengolahan, pengembangan infrastruktur logistik, serta hilirisasi komoditas unggulan.
Wakil Gubernur Cik Ujang menyampaikan, pembangunan sektor pangan di Sumatera Selatan menunjukkan tren positif. Indeks Ketahanan Pangan menempatkan provinsi ini di peringkat keempat nasional, seiring membaiknya kualitas konsumsi pangan masyarakat serta menurunnya angka stunting dan kemiskinan.
Meski demikian, ia mengakui masih ada tantangan besar. Keterbatasan anggaran, dampak perubahan iklim, alih fungsi lahan, gangguan distribusi, hingga fluktuasi harga pangan menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara kolaboratif.
"Kelompok masyarakat rentan miskin dan rawan pangan masih memerlukan perhatian serius. Karena itu, transformasi GSMP menjadi ekosistem rantai pasok ini adalah jawaban atas tantangan tersebut," kata Cik Ujang.
Untuk memperkuat tata kelola program, kegiatan ini juga mencanangkan Forum Kolaborasi GSMP Provinsi Sumatera Selatan. Wadah ini menjadi tempat koordinasi antarinstansi pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, akademisi, hingga pesantren sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Pada kesempatan yang sama, dilakukan penandatanganan komitmen bersama pengembangan ekosistem dalam skema government-to-government (G2G) dan business-to-business (B2B). Komitmen ini menjadi bentuk dukungan nyata terhadap penguatan produksi pangan lokal.
Peluncuran ekosistem ini menjadi simbol gotong royong membangun kedaulatan pangan Sumatera Selatan, sekaligus memastikan program strategis nasional MBG berjalan dengan pasokan bahan baku yang stabil dan berkualitas.