SUMATERA SELATAN — Pelaku pasar mulai mengkalkulasi ulang arah kebijakan moneter The Fed menyusul proyeksi lemahnya pasar tenaga kerja AS. Data non-farm payrolls yang akan dirilis pekan ini diyakini memberikan ruang bagi The Fed untuk menahan suku bunga acuannya, sehingga tekanan terhadap mata uang emerging market berkurang.
Ekspektasi tersebut mendorong pelaku pasar menutup posisi beli dolar AS yang sempat menumpuk sepanjang pekan ini. Indeks dolar terpantau berada di bawah tekanan, selaras dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang cenderung turun di pasar sekunder.
Pelemahan dolar ini menjadi angin segar bagi mata uang Asia, termasuk rupiah. Penguatan pagi ini melanjutkan tren pemulihan tipis setelah tekanan cukup deras terjadi pada awal pekan.
Blok-blok mata uang kawasan memang masih dibayangi divergensi kebijakan antara The Fed dan bank sentral utama lainnya. Namun, data tenaga kerja AS yang diproyeksikan mendingin dianggap mampu mengubah narasi pasar dalam beberapa hari ke depan.
Jika data resmi yang dirilis nanti malam sesuai ekspektasi pasar, potensi penguatan rupiah masih terbuka menuju kisaran psikologis berikutnya. Sebaliknya, jika data menunjukkan kekuatan yang tak terduga, posisi dolar AS bisa kembali perkasa dan menekan nilai tukar regional.
Sepanjang sesi perdagangan kemarin, pergerakan rupiah masih fluktuatif mengikuti arus dana asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Pelaku pasar domestik tampak menahan diri untuk mengambil posisi besar sebelum ada kejelasan data dari AS.
Level Rp17.642/US$ menjadi harga pembukaan yang dipantau ketat oleh trader. Support terdekat diperkirakan berada di kisaran Rp17.600-an, sementara resistance psikologis masih berada di level Rp17.700/US$ apabila tekanan beli dolar kembali muncul.
Pasar akan mencermati rilis data tenaga kerja AS malam ini sebagai penentu arah pergerakan rupiah pada awal pekan depan.