Sarwendah Minta Polemik Hak Asuh Anak Ruben Onsu Dihentikan di Publik

Penulis: Nopriansyah Putra  •  Kamis, 17 September 2026 | 09:04:01 WIB

SUMATERA SELATAN — Kuasa hukum Sarwendah, Chris Sam Siwu, meminta polemik hak asuh anak antara kliennya dan Ruben Onsu tidak lagi dibahas di media. Alasannya jelas: privasi dan tumbuh kembang anak harus jadi prioritas, bukan konsumsi publik. Berikut duduk perkara dan pesan pentingnya untuk orang tua.

Chris Sam Siwu menyampaikan permintaan itu melalui unggahan terbarunya. Ia menegaskan bahwa perkara hak asuh anak seharusnya mengedepankan privasi dan perlindungan terhadap tumbuh kembang anak, bukan dijadikan bahan konsumsi publik.

Permintaan ini muncul di tengah polemik gugatan hak asuh anak antara Sarwendah dan Ruben Onsu yang terus menyita perhatian publik. Kubu Sarwendah khawatir sorotan yang berkepanjangan bisa berdampak pada kondisi psikologis buah hati mereka.

Mengapa Privasi Anak Harus Jadi Prioritas

Dalam pernyataannya, Chris menekankan bahwa perkara ini menyangkut anak-anak. Kepentingan dan privasi mereka, katanya, seharusnya menjadi prioritas bersama.

"Perkara ini menyangkut soal anak-anak. Seharusnya kepentingan dan privasi mereka yang menjadi prioritas kita bersama," ungkap Chris Sam Siwu dalam unggahan terbarunya, dikutip Rabu (16/9/2026).

Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Anak-anak yang terseret dalam konflik orang tua di ruang publik rentan mengalami tekanan emosional. Mereka bisa merasa bingung, malu, atau tertekan ketika persoalan keluarganya menjadi bahan perbincangan banyak orang.

Kekhawatiran Soal Isu Keyakinan yang Diangkat ke Publik

Kubu Sarwendah juga menyoroti kemunculan isu perbedaan keyakinan yang belakangan diangkat ke publik. Menurut Chris, isu itu dibahas tanpa konteks lengkap sehingga mengaburkan esensi perlindungan hak anak.

Pihaknya merasa prihatin karena hal-hal yang seharusnya menjadi ranah privat keluarga justru ikut menjadi konsumsi publik. Fokusnya pun bergeser dari yang seharusnya: kesejahteraan anak.

Apa yang Bisa Dipelajari Orang Tua dari Kasus Ini

Konflik hak asuh memang tidak selalu bisa dihindari. Namun, cara orang tua menyikapinya di depan publik bisa menentukan seberapa besar dampaknya pada anak.

Ada beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran:

  • Batasi pembicaraan soal anak di media sosial dan ruang publik
  • Hindari melibatkan anak dalam konflik orang tua, termasuk meminta mereka memilih pihak
  • Jaga komunikasi dengan mantan pasangan tetap fokus pada kebutuhan anak
  • Cari bantuan psikolog anak jika anak mulai menunjukkan perubahan perilaku

Kapan Perlu Melibatkan Psikolog Anak

Anak yang terpapar konflik orang tua berkepanjangan bisa menunjukkan tanda-tanda stres. Beberapa di antaranya adalah sulit tidur, menarik diri dari pergaulan, prestasi sekolah menurun, atau mudah marah tanpa sebab jelas.

Jika tanda-tanda itu muncul, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog anak. Pendampingan profesional membantu anak mengolah emosinya dan merasa aman di tengah situasi yang tidak mudah.

Yang terpenting, keputusan apa pun soal hak asuh sebaiknya berpijak pada satu hal: apa yang terbaik untuk anak. Bukan siapa yang menang dalam polemik.

Reporter: Nopriansyah Putra
Sumber: lifestyle.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top