Alat Kontrasepsi yang Picu Risiko Kanker Payudara, Ibu Perlu Tahu

Penulis: Nopriansyah Putra  •  Rabu, 30 September 2026 | 09:05:31 WIB
Penelitian Uppsala University menemukan risiko kanker payudara berbeda tergantung jenis hormon dalam alat kontrasepsi.

SUMATERA SELATAN — Penelitian terbaru dari Uppsala University Swedia menemukan risiko kanker payudara berbeda tergantung jenis hormon dalam alat kontrasepsi. Dari 2,09 juta perempuan yang diteliti, kontrasepsi hormonal dikaitkan dengan kenaikan risiko 24 persen secara relatif, meski risiko absolutnya tetap kecil. Berikut panduan lengkap memahami temuan ini sebelum ibu memutuskan jenis kontrasepsi.

Desogestrel menjadi salah satu kandungan progestin yang paling disorot dalam studi terbaru yang diterbitkan di JAMA Oncology. Peneliti mengamati 2.095.130 remaja perempuan dan perempuan usia 13-49 tahun di Swedia menggunakan data registrasi nasional periode 2006-2019.

Selama pemantauan, tercatat 16.385 kasus kanker payudara. Peneliti lalu membandingkan risiko berdasarkan jenis dan kandungan hormon yang dipakai.

Apa yang Ditemukan Penelitian Ini

Secara keseluruhan, penggunaan alat kontrasepsi hormonal dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara 24 persen secara relatif. Angka ini terdengar besar, tapi peningkatan risiko absolutnya hanya sekitar satu kasus tambahan per 7.752 pengguna per tahun.

Artinya, temuan ini menunjukkan asosiasi statistik, bukan kepastian bahwa kontrasepsi menyebabkan kanker pada seseorang. Perbedaan risiko justru muncul saat peneliti melihat jenis progestin yang digunakan.

Desogestrel dan Etonogestrel Paling Disorot

Pada pengguna pil oral yang hanya mengandung desogestrel, risiko kanker payudara lebih tinggi dibanding kelompok pembanding yang memakai pil kombinasi berbasis levonorgestrel. Kontrasepsi kombinasi dengan desogestrel juga menunjukkan peningkatan risiko serupa.

Hal yang sama berlaku pada implan yang mengandung etonogestrel, metabolit aktif dari desogestrel. Sementara itu, suntikan depot medroxyprogesterone acetate tidak menunjukkan peningkatan risiko dalam penelitian ini.

"Tidak semua kontrasepsi hormonal memberikan efek yang sama terhadap risiko kanker payudara. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa beberapa jenis progestin khususnya desogestrel dikaitkan dengan risiko kanker payudara yang lebih tinggi, sementara jenis lainnya, seperti suntikan depot medroxyprogesterone acetate, tidak menunjukkan adanya peningkatan risiko," ujar Profesor Åsa Johansson, pemimpin kelompok penelitian di Uppsala University dan SciLifeLab sekaligus penulis senior studi.

Manfaat Kontrasepsi Hormonal Tetap Besar

Peneliti utama Fatemeh Hadizadeh menegaskan temuan ini bukan alasan untuk buru-buru menghentikan kontrasepsi hormonal. Manfaatnya tetap perlu diperhitungkan, mulai dari mencegah kehamilan yang tidak direncanakan hingga menurunkan risiko kanker ovarium dan kanker endometrium.

Kontrasepsi hormonal juga membantu mengatasi nyeri haid, perdarahan menstruasi berat, dan jerawat. Pemilihan jenisnya sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tiap perempuan, termasuk usia, riwayat kesehatan, dan faktor risiko kanker payudara.

"Kontrasepsi hormonal sangat efektif dan memberikan manfaat penting bagi kesehatan. Kami tidak menganjurkan perempuan untuk berhenti menggunakannya. Selain membantu mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, kontrasepsi hormonal juga dapat menurunkan risiko kanker ovarium dan kanker endometrium, meredakan nyeri menstruasi serta perdarahan menstruasi yang berlebihan, membantu mengatasi jerawat, dan memberikan perempuan kendali yang lebih besar terhadap kesehatan reproduksinya," tuturnya.

Kapan Ibu Perlu Berkonsultasi ke Dokter

Keputusan memilih alat kontrasepsi sebaiknya tidak diambil sendiri hanya berdasarkan satu studi. Diskusikan dengan dokter kandungan atau bidan, terutama jika ibu memiliki riwayat kanker payudara di keluarga, pernah menjalani pengobatan hormon, atau sedang mengonsumsi obat tertentu.

Sampaikan juga jenis kontrasepsi yang sedang dipakai saat ini. Dokter bisa membantu menimbang manfaat dan risiko sesuai kondisi tubuh ibu, bukan sekadar mengikuti tren atau rekomendasi orang lain.

Peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia

Yayasan Kesehatan Perempuan menyebut Hari Kontrasepsi Sedunia atau World Contraception Day diperingati setiap 26 September. Tujuannya meningkatkan kesadaran akan penggunaan kontrasepsi dan memberi pilihan bagi pasangan muda terkait kesehatan seksual dan reproduksi.

Momen ini jadi pengingat bahwa memiliki informasi yang benar soal kontrasepsi adalah hak setiap perempuan. Dengan pemahaman yang baik, ibu bisa mengambil keputusan yang paling sesuai untuk tubuh dan rencana keluarga.

Reporter: Nopriansyah Putra
Sumber: haibunda.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top