Tim dosen Program Studi Budidaya Perairan Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang mengenalkan teknologi ramah lingkungan bernama green waste (g-waste) aquaculture kepada pembudi daya ikan lele di Sumatera Selatan. Teknologi ini memungkinkan air budi daya didaur ulang tanpa perlu dibuang, sekaligus menekan biaya operasional yang selama ini membebani para peternak.
PALEMBANG — Teknologi yang dikembangkan tim riset Unsri ini menyasar persoalan klasik yang dihadapi pembudi daya ikan, yakni akumulasi limbah organik sisa pakan dan feses yang memicu tingginya kadar amonia di kolam. Selama ini, solusi yang umum dipakai adalah mengganti air secara rutin, sebuah metode yang dinilai boros biaya dan tidak efisien.
Sistem yang diperkenalkan justru mengolah limbah tersebut menjadi nutrien bermanfaat melalui unit biofilter dan media tanaman air. Dengan begitu, air kolam bisa dipakai berulang kali tanpa harus dibuang ke lingkungan.
Sasaran Pelatihan: Pokdakan Usaha Makmur di Ogan Ilir
Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Usaha Makmur di Desa Tanjung Seteko, Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, menjadi daerah pertama yang menerima pengenalan teknologi ini. Ketua tim pelaksana kegiatan, Mirna Fitrani, mengatakan sosialisasi dan pelatihan berlangsung intensif sepanjang September ini.
Kegiatan itu melibatkan penyuluh perikanan dan perangkat desa setempat. Materi yang disampaikan tidak hanya teori, tetapi juga praktik langsung pengukuran parameter kualitas air seperti suhu, pH, oksigen terlarut, dan amonia.
Target: Amonia Turun 30 Persen, Frekuensi Ganti Air Berkurang Drastis
Tim menargetkan sejumlah indikator keberhasilan dari program ini. Kadar amonia diharapkan turun hingga lebih dari 30 persen, sementara frekuensi pergantian air bisa ditekan hingga lebih dari 70 persen.
Selain itu, program ini juga menargetkan terbentuknya kelompok sadar lingkungan di tingkat desa sebagai bagian dari keberlanjutan. Ke depan, tim akan membangun unit percontohan (demplot) di lokasi mitra serta melakukan pendampingan teknis secara berkala.
Menjawab Kebutuhan Mendesak Pembudi Daya Tradisional
Perwakilan Pokdakan Usaha Makmur, Idris, mengapresiasi perhatian tim Unsri terhadap kelompoknya. Ia mengakui selama ini sistem budi daya yang dijalankan warga masih tradisional hingga semi-intensif, bergantung pada air rawa dan air hujan tanpa pengelolaan kualitas air yang terukur.
"Sehingga pelatihan ini dinilai menjawab kebutuhan mendesak yang selama ini dirasakan langsung oleh para pembudi daya," kata Idris.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang didanai DIPA Universitas Sriwijaya Tahun Anggaran 2026. Program tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin keenam tentang pengelolaan air bersih, serta mendukung program unggulan Unsri di bidang ketahanan pangan.
Mirna berharap program ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi titik awal transformasi sistem budi daya di Tanjung Seteko menuju praktik yang lebih efisien dan berkelanjutan. "Sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pembudi daya secara nyata," ujarnya.