4 Ikon Sejarah Palembang Resmi Dicetak Jadi Perangko Edisi Khusus, dari Prasasti hingga Jembatan Ampera

Penulis: Hendra Mukhtar  •  Selasa, 02 Juni 2026 | 18:28:29 WIB
Perangko edisi khusus Palembang menampilkan empat ikon sejarah dari prasasti hingga Jembatan Ampera.

PALEMBANG — Selembar perangko tak lagi sekadar alat pengirim surat. Di era digital, ia menjelma menjadi duta budaya dan media dokumentasi sejarah visual yang bernilai tinggi. Hal inilah yang mendorong kolaborasi antara PT Pos Indonesia dan Dinas Kebudayaan Kota Palembang untuk menerbitkan perangko bertema artefak dan bangunan bersejarah.

Executive General Manager PT Pos Indonesia Palembang, Danny Wahyu Saputra, mengungkapkan bahwa empat ikon yang dipilih memiliki keterkaitan kuat dengan linimasa perjalanan Palembang dari masa ke masa. "Keempat ikon ini bukan sekadar gambar, melainkan representasi identitas dan rekaman jejak panjang perjalanan Palembang," kata Danny dalam audiensi dengan Walikota Palembang, Selasa (2/6/2026).

Empat Ikon yang Diabadikan dalam Perangko

Keempat ikon tersebut mencakup periode sejarah yang berbeda. Pertama, Prasasti Kedukan Bukit yang menjadi piagam kelahiran dan akar sejarah tertua Palembang. Kedua, Kantor Ledeng, simbol arsitektur peninggalan era kolonial yang kini berfungsi sebagai pusat pemerintahan.

Ketiga, Jembatan Ampera yang menampilkan wajah modernitas, semangat perjuangan, dan menjadi daya tarik utama pariwisata kota. Keempat, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II yang menandai gerbang konektivitas internasional Palembang dengan dunia luar.

Diplomasi Budaya Lewat Filateli

Walikota Palembang Ratu Dewa menilai perangko memiliki nilai historis yang luar biasa. Menurutnya, ketika sebuah narasi sejarah berhasil diabadikan dalam selembar perangko, nilainya menjadi abadi karena dapat menembus batas ruang dan waktu.

"Begitu bangunan atau artefak masuk dalam cetakan perangko, ia tidak hanya menjadi simbol visual, tetapi juga penanda peradaban yang dikenal lintas generasi, bahkan sampai ke berbagai negara," ujar Ratu Dewa.

Sebagai kota tertua di Nusantara yang berakar sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, perangko edisi khusus ini dinilai menjadi sarana diplomasi budaya yang efektif untuk memperkenalkan kekayaan Palembang ke dunia internasional. Sepanjang sejarahnya, PT Pos Indonesia memang kerap menerbitkan perangko edisi khusus bertema budaya, termasuk saat momen Pekan Olahraga Nasional (PON) di Palembang.

Mengembalikan Budaya Menulis Surat

Peluncuran perangko ini juga diikuti dengan gerakan menghidupkan kembali budaya korespondensi fisik. PT Pos Indonesia bersama Pemkot Palembang menggelar Lomba Menulis Surat dan Kartu Pos untuk Walikota Palembang yang menyasar generasi muda, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, hingga mahasiswa. Perlombaan ini berlangsung dari 20 Mei hingga 20 Juni 2026.

"Kami ingin anak-anak muda kembali mengenal indahnya komunikasi tertulis lewat media pos. Surat dan kartu pos terbaik nantinya akan dipilih langsung untuk Walikota," kata Danny.

Melalui kompetisi ini, perangko kembali diposisikan pada fungsi aslinya sebagai pengantar pesan sekaligus pemantik literasi di kalangan pelajar agar tidak sepenuhnya tergerus arus digitalisasi. Surat dan kartu pos terbaik nantinya akan dipilih langsung untuk dibacakan oleh Walikota Palembang.

Reporter: Hendra Mukhtar
Sumber: sumselsatu.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top