Spanyol Perluas Lahan Tembakau Extremadura Menjadi 6.496 Hektar Tahun 2025

Penulis: Hafris Rasyid  •  Senin, 04 Mei 2026 | 17:38:01 WIB

Wilayah Extremadura di Spanyol mulai memperluas lahan budidaya tembakau hingga 6.496 hektar atau naik tujuh persen pada musim tanam 2025. Langkah strategis ini diambil guna memperkuat dominasi produksi tembakau Eropa meskipun petani menghadapi tantangan kenaikan biaya operasional akibat ketidakpastian geopolitik global.

Extremadura resmi memulai kampanye budidaya tembakau yang memposisikan wilayah ini sebagai pusat produksi utama di level nasional maupun Eropa. Bibit-bibit tembakau kini mulai didistribusikan dari tempat persemaian menuju kawasan produsen utama yang menguasai 98 persen total produksi tembakau di Spanyol. Kawasan strategis tersebut mencakup Campo Arañielo, La Vera, Alagón, Talayuela, hingga Navalmoral de la Mata.

Ekspansi ini terjadi di tengah situasi industri yang kontradiktif. Meskipun ketidakpastian ekonomi membayangi, federasi petani justru mencatat adanya peningkatan luas lahan yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tren pertumbuhan ini menunjukkan pemulihan bertahap, meski angkanya belum menyentuh rekor 10.000 hektar yang pernah tercapai pada awal dekade lalu.

Target Produksi dan Kontrak Pembelian 2025

Peningkatan luas lahan diikuti oleh lonjakan volume kontrak pembelian dari operator sektor industri. Organisasi Interprofesional Tembakau Spanyol (Oitab) telah meningkatkan target kontrak di Extremadura menjadi 23,69 juta kilogram. Angka ini mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap kualitas komoditas dari wilayah tersebut.

  • Total Luas Lahan: 6.496 hektar (naik 7% YoY)
  • Target Pembelian Oitab: 23,69 juta kilogram
  • Kontrak Perusahaan Cetarsa: 16,65 juta kilogram (naik 5%)
  • Kontrak Deltafina: 3,62 juta kilogram
  • Kontrak Mella: 3,41 juta kilogram

Direktur Oitab, Fernando Vaquero, menyebut pertumbuhan selama lima tahun terakhir sebagai sinyal positif bagi industri. Namun, para petani di lapangan harus menghadapi realitas ekonomi yang berbeda. Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran berdampak langsung pada meroketnya harga bahan bakar diesel dan pupuk, dua komponen vital dalam biaya produksi agrikultur.

Tantangan Operasional dan Pembatasan Pestisida

Menambah luas lahan tidak secara otomatis menjamin peningkatan keuntungan bagi petani. Asosiasi Petani (Asaja) memperingatkan bahwa pembatasan penggunaan produk fitosanitasi tertentu akan memukul produktivitas lahan. Kebijakan pelarangan 1.3-Dichloropropene dan pembatasan Metam Sodium dinilai mengurangi instrumen perlindungan tanaman yang tersedia.

Dionisio Sánchez, Manajer SAT Agrupación TAB, menyatakan bahwa sektor ini kekurangan sarana produksi yang memadai dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. "Hasil panen per hektar kemungkinan besar menurun. Banyak petani menambah luas lahan hanya untuk mencoba mempertahankan total volume panen yang sama dengan tahun lalu," ujar Sánchez. Fenomena ini juga dipicu oleh beralihnya petani jagung ke tembakau karena harga sereal yang tidak lagi kompetitif.

Dampak Ekonomi Bagi 20.000 Keluarga Petani

Industri tembakau di Extremadura memegang peran krusial dalam stabilitas sosial dan ekonomi pedesaan. Sekitar 20.000 keluarga menggantungkan hidup mereka secara langsung pada budidaya ini. Berdasarkan studi AFI dan Mesa del Tabaco, sektor ini menyumbang nilai tambah sebesar 69 juta euro (sekitar Rp1,1 triliun) bagi perekonomian Extremadura.

Secara lebih luas, jika menghitung seluruh rantai pasokan termasuk pemrosesan, dampaknya mencapai 126 juta euro. Untuk menjaga keberlangsungan ini, pemerintah daerah Extremadura mengalokasikan bantuan sebesar lima juta euro yang ditujukan bagi 500 petani guna mendukung Produksi Tembakau Terintegrasi. Langkah proteksi ini penting untuk menjaga lapangan kerja di area rural agar penduduk tidak melakukan urbanisasi besar-besaran.

Relevansi Global dan Tren Konsumsi

Meskipun produksi lokal di Extremadura meningkat, secara umum industri tembakau Uni Eropa mengalami penurunan drastis dalam tiga dekade terakhir. Produksi Eropa menyusut dari 400.000 ton pada awal 1990-an menjadi hanya 140.000 ton pada 2018. Tren ini berjalan beriringan dengan penurunan jumlah perokok global yang kini berada di angka 20,4 persen dibandingkan 32,7 persen pada tahun 2000.

Sektor industri mengingatkan pemerintah agar tidak terlalu ketat membatasi budidaya selama permintaan pasar masih ada. Jika produksi di Eropa ditekan habis, kebutuhan pasar akan dipenuhi oleh produk impor dari luar kawasan. Saat ini, perusahaan-perusahaan di Extremadura masih mampu mengekspor sekitar 74 persen hasil panen mereka dengan nilai mencapai 70 juta euro per tahun ke pasar internasional.

Reporter: Hafris Rasyid
Back to top