SUMATERA SELATAN — Mata uang Garuda tercatat melemah 0,21 persen pada pembukaan pagi ini, seiring dengan tekanan seragam yang melanda hampir seluruh mata uang Asia. Yen Jepang turun 0,14 persen, baht Thailand melemah 0,17 persen, dan won Korea Selatan menjadi yang terburuk dengan koreksi 0,71 persen. Dolar Singapura dan dolar Hong Kong juga ikut terseret ke zona merah.
Tekanan tidak hanya terbatas di kawasan Asia. Mata uang negara maju pun kompak melemah terhadap dolar AS. Euro Eropa turun 0,12 persen, poundsterling Inggris melemah 0,01 persen, dan franc Swiss menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 0,27 persen. Dolar Australia dan dolar Kanada juga tak luput dari pelemahan.
Dua Beban Sekaligus: Geopolitik dan Data Domestik
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah akan berkonsolidasi dengan rentang pergerakan Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS hari ini. Menurutnya, investor masih mengambil sikap wait and see menyusul perkembangan negosiasi AS-Iran yang masih limbung.
"Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan. Harga minyak yang sudah menurun bisa mendukung rupiah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6).
BI Akui Ada Lonjakan Kebutuhan Dolar Musiman
Bank Indonesia (BI) sebelumnya sudah mengonfirmasi bahwa tekanan terhadap rupiah selama periode libur dan cuti bersama Iduladha 2026 tidak hanya berasal dari faktor eksternal. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyebut konflik di Timur Tengah yang masih berlanjut menjadi sumber utama ketidakpastian global.
"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," kata Ramdan pada Jumat (29/5).
Selain faktor geopolitik, BI juga mencatat adanya peningkatan kebutuhan dolar AS secara musiman. Kebutuhan ini muncul dari pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen, sementara arus masuk dolar AS ke dalam negeri masih terbatas. Situasi ini menambah beban bagi nilai tukar rupiah yang sudah tertekan.
Intervensi BI Berlangsung Non-Stop
Menghadapi tekanan yang terus berlanjut, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk tetap hadir di pasar. Ramdan menyatakan pihaknya akan menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai instrumen intervensi yang berjalan tanpa henti.
"Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," tegas Ramdan.
Pernyataan ini menjadi sinyal bagi pelaku pasar bahwa BI tidak akan tinggal diam meskipun tekanan terhadap rupiah datang dari berbagai arah, baik dari faktor global maupun domestik yang bersifat musiman.