Pencarian

UIN Raden Fatah Palembang Rumuskan Kaidah Baku Tembang Batanghari Sembilan, Digitalisasi Jadi Andalan agar Tak Punah

Minggu, 02 Agustus 2026 • 12:26:31 WIB
UIN Raden Fatah Palembang Rumuskan Kaidah Baku Tembang Batanghari Sembilan, Digitalisasi Jadi Andalan agar Tak Punah
Para akademisi dan budayawan mengikuti FGD kaidah langgam Tembang Batanghari Sembilan di UIN Raden Fatah Palembang, Sabtu (1/8/2026).

PALEMBANG — Tembang Batanghari Sembilan, warisan seni tutur lisan masyarakat Melayu Sumatera Selatan, tengah menghadapi ancaman serius. Minimnya dokumentasi ilmiah dan berkurangnya penutur membuat kesenian yang tumbuh di sepanjang Daerah Aliran Sungai Musi ini rentan kehilangan bentuk aslinya.

Langkah penyelamatan pun mulai digagas lewat jalur akademik. Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Kaidah Langgam Irama Tembang Batanghari Sembilan Masyarakat Melayu Sumatera Selatan" digelar di Ruang Seminar Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang, Sabtu (1/8/2026).

Forum ini merupakan bagian dari penelitian disertasi Program Doktor Wanda Lesmana pada Program Studi S3 Peradaban Islam, Konsentrasi Islam Melayu Nusantara. Hadir pula Kepala Program Studi S3 Peradaban Islam UIN Raden Fatah Palembang Dr. Mohammad Syawaludin MA, Promotor Prof. Dr. Duski Ibrahim M.Ag, Ko-Promotor Dr. Alimron M.Ag, serta budayawan, penutur, dan perwakilan Balai Bahasa Sumsel.

Kaidah Langgam yang Kian Memudar

Penelitian ini berangkat dari keprihatinan atas derasnya arus modernisasi dan komodifikasi budaya. Pola melodi utama Tembang Batanghari Sembilan sebenarnya masih bertahan, tetapi variasi semakin meluas seiring perubahan ruang pertunjukan dari tepian sungai menuju festival budaya dan industri kreatif.

Tanpa pedoman yang jelas, berbagai versi langgam yang berkembang di masyarakat berpotensi mengikis keaslian karya seni ini. Wanda Lesmana menggunakan pendekatan etnografi etnomusikologis untuk merumuskan kaidah yang sistematis, baku, dan normatif.

"Tembang Batanghari Sembilan merupakan seni tutur lisan Melayu yang berkembang di sepanjang Daerah Aliran Sungai Musi. Penelitian ini mengintegrasikan perspektif etnomusikologi, sastra lisan, dan nilai-nilai Islam sebagai satu kesatuan ekspresi estetika dan spiritual," jelas Wanda.

Dokumentasi Digital Jadi Kunci

Dr. Mohammad Syawaludin menegaskan pelestarian budaya tidak bisa lagi mengandalkan tradisi lisan semata. Perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan kesenian ini ke khalayak yang lebih luas.

"Selama ini banyak kekayaan budaya yang diwariskan secara lisan, tetapi belum terdokumentasi dengan baik. Karena itu, hasil penelitian seperti ini sangat penting sebagai referensi akademik maupun upaya pelestarian budaya," ujarnya.

Platform digital seperti YouTube dan media sosial dinilai bisa menjadi ruang baru agar Tembang Batanghari Sembilan tetap hidup di tengah generasi muda. Digitalisasi bukan sekadar merekam pertunjukan, melainkan juga cara efektif mendokumentasikan langgam, syair, teknik bertutur, hingga nilai budaya di dalamnya.

Kolaborasi Lintas Sektor Diperlukan

Syawaludin mengingatkan proses pelestarian tidak boleh berhenti di lingkungan kampus. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, praktisi seni, dan masyarakat diperlukan agar pembinaan berlanjut melalui pertunjukan hingga pengembangan konten digital.

Senada dengan itu, Dr. Alimron M.Ag menyebut Tembang Batanghari Sembilan sebagai identitas budaya Melayu Sumsel yang menyimpan nilai seni, sastra, sejarah, dan spiritualitas tinggi. Statusnya sebagai sastra lisan membuat data dan dokumentasi tidak mudah diperoleh.

"Sebenarnya banyak referensi yang dapat digali. Namun karena Tembang Batanghari Sembilan merupakan sastra lisan, data dan dokumentasinya tidak mudah diperoleh. Oleh karena itu diperlukan kerja sama antara akademisi dan para praktisi seni agar warisan budaya ini dapat didokumentasikan sekaligus dilestarikan dengan baik," katanya.

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi rujukan awal bagi pemerintah daerah dan pegiat seni dalam menyusun program pelestarian yang lebih terarah. Tanpa upaya konkret, kekayaan budaya lisan ini bisa benar-benar hilang ditelan zaman.

Bagikan
Sumber: relung.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks